Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Disetir Industri, Jay Subiakto Prihatin dengan Seniman Muda

Written By Luthfie fadhillah on Jumat, 10 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Jay Subiakto mengaku khawatir dengan seniman muda atau generasi sekarang yang selalu diatur oleh industri dalam berkarya, entah dalam musik ataupun film. Dengan banyaknya suguhan-suguhan dari industri tersebut, maka banyak karya-karya yang sebenarnya bagus tetapi tidak tereskpos.


"Saya berharap generasi muda mau mencoba untuk berpikir dan juga memiliki idealisme. Karena tidak semua yang kita lakukan untuk uang," ujarnya di sela-sela jumpa pers konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya di Jakarta, Jumat (10/1).


Menurutnya, generasi muda harus bisa memikirkan sesuatu yang original dan baru bila ingin menjadi berkualitas. Dengan begitu, Jay selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya agar masyarakat bisa mengapresiasi yang memang patut diapresiasi.


"Orang Indonesia juga memiliki kecenderungan lebih menghargai karya orang asing. Misalnya bila musisi asing konser di sini dengan musik seadanya dan telat memulai konser, penonton mana ada yang marah-marah. Namun, bila saya yang melakukan kesalahan semua marah-marah. Padahal saya selalu total dalam menggelar konser tidak pernah setengah-setengah," keluhnya.


Dia juga mencontohkan untuk konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya yang sedang dia urus. Jay mengungkap tidak akan menampilkan hingar bingar yang tidak bermutu, seperti yang ada di televisi.


"Bila konser persembahan Mas Erros ini masuk televisi, pasti kita harus menampilkan artis-artis yang lagi ngetop seperti Cherrybelle, JKT 48 atau Wali. Karena televisi kita hanya mementingkan rating," imbuh Jay.


22.14 | 0 komentar | Read More

Ayu Ting Ting Tolak Enji Beri Nama Bayinya

Written By Luthfie fadhillah on Kamis, 09 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Rupanya Ayu Ting Ting benar-benar sudah membenci suaminya, Hendri Baskoro atau yang akrab disapa Enji. Bahkan Ayu dengan tegas menolak bila Enji memberikan nama pada bayi yang dilahirkannya itu. Selain itu Ayu akan menolak kedatangan Enji bila nantinya dirinya melahirkan. Hal itu diungkapkan ayahanda Ayu Ting Ting, Abdul Rozak saat ditemui di kediamannya di Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1).


"Enggak perlu repot-repot kasih nama, nama sudah dibuatkan bundanya," ungkap Abdul Rozak.


Abdul Rozak sendiri mengaku bahwa pemilihan nama bagi bayinya itu sudah dipersiapkan Ayu sejak jauh-jauh hari dan nama yang akan diberikannya itu dianggap nama yang pas bagi cucu pertamanya itu.


"Sama Ayu sudah dipersiapkan namanya dengan matang sejak jauh-jauh hari. Namanya Islami deh, biar sifatnya bagus juga," lanjut ayahanda pelantun "Sik Asik itu."


Disinggung perihal Enji yang ingin menjenguk putrinya yang sedang diisukan melahirkan, Abdul Rozak dengan tegas menolak kedatangan Enji menjenguk putri kesayangannya itu.


"Gak usah pikirin anak ayah lagi, mending pikirin yang ada di luar sana. Anak ayah sudah sama ibunya, itu cukup bagi kami untuk menemani saat Ayu melahirkan. Dia tidak perlu memaksa-maksa ketemu Ayu, karena Ayu juga akan menolaknya," ujarnya dengan sedikit emosi.


22.14 | 0 komentar | Read More

Film "99 Cahaya di Langit Eropa" Raih 1,1 Juta Penonton

Written By Luthfie fadhillah on Rabu, 08 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Di tengah lesunya jumlah penonton bioskop di Indonesia, kabar menggembirakan datang dari film "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan sutradara Guntur Soeharjanto.


Sejak tayang perdana di bioskop mulai 5 Desember 2013 lalu, film ini diakui Guntur telah meraih sebanyak 1,1 juta penonton. Bahkan hingga pekan ini, beberapa bioskop juga masih memutar film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan pasangan Hanum Rais dan Rangga Almahendra tersebut.


"Sudah satu bulan lebih diputar di bioskop, tapi apresiasinya masih bagus. Responnya juga positif dan mereka mengerti apa yang ingin kita sampaikan," kata Guntur Soeharjanto di Jakarta, Rabu (8/1).


Atas prestasi yang sudah diraihnya ini, Guntur mengaku tak ingin berpuas diri. Ia justru semakin terpacu untuk membuat sekuel film ini lebih baik lagi.


"Untuk bagian kedua sebetulnya sudah rampung sekitar 70 persen. Kita garapnya saat proses syuting yang pertama, jadi tinggal melengkapi yang kurangnya saja," kata dia.


Namun Guntur tak bisa memastikan kapan sekuel film ini akan segera dilengkapi. Hal ini terkait waktu dan cuaca.


"Di Eropa kebetulan kan juga lagi winter, jadi ada banyak hal yang harus dipersiapkan," ujarnya.


Sekuel film "99 Cahaya di Langit Eropa" ini menurut Guntur akan berkisah tentang lanjutan perjalanan Hanum Rais (Acha Septriasa) dan Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) dalam menapaki jejak-jejak kebesaran Islam di benua biru Eropa.


"Film yang pertama kan baru menampilkan perjalanan Hanum dan Rangga ke Vienna (Austria) dan Paris (Perancis), di part 2 nanti akan ada sambungan perjalanan mereka ke Cordoba (Spanyol) dan Istambul (Turki). Kita juga akan coba untuk bisa syuting di Mekkah," ungkapnya.


22.14 | 0 komentar | Read More

Christy Jusung Daftarkan Gugatan Cerai

Written By Luthfie fadhillah on Selasa, 07 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Meski membantah hubungan rumah tangganya dengan Jay Alatas sedang di ambang kehancuran, namun ternyata Christy Jusung malah mendaftarkan gugatan cerainya ke Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan hari ini. Hal itu diungkapkan Humas PA Jakarta Selatan, Ida Noor, kala dihubungi sejumlah wartawan, Selasa (7/1) malam.


"Benar bahwa saudari Christy Jusung telah mendaftarkan gugatan cerainya ke PA Jakarta Selatan pada Selasa (7/1) pagi dan tercatat dengan nomor perkara 0055/Pdt G/2014/PAJS," kata Ida.


Lebih lanjut Ida membantah bahwa yang memasukan gugatan cerainya adalah pihak suami Christy Jusung.


"Yang memasukan gugatannya Christy Jusung, bukan suaminya," kata Ida.


Sebelumnya, saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat hari ini, mantan istri Hengki Kurniawan itu dengan tegas membantah kabar perceraiannya itu.


"Rumah tangga bagian mana ya yang retak? Kalaupun ada yang minta ditanggapi, bagian mana yang harus ditanggapi. Hubungan rumah tangga kita masih baik-baik saja sampai sekarang. Mas Jay pasti tahu lah isu ini, karena memang kerja di lingkungan yang sama dan tanggapannya hanya senyum saja," ungkap Christy saat ditanya masalah perceraiannya.


Pernikahan Christy baru saja berjalan 8 bulan, ia menikah dengan Jay Alatas pada 28 April 2013. Keputusan menikah dengan suaminya itu memang tergolong singkat. Christy yang berstatus sebagai janda hanya butuh 5 bulan sejak berkenalan dengan Jay Alatas yang memiliki 3 orang anak untuk memutuskan menikah.


22.14 | 0 komentar | Read More

"Girl Rising", Kisah Remaja Perempuan di Negara Berkembang

Written By Luthfie fadhillah on Senin, 06 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Hari ini Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan pemutaran film berjudul Girl Rising di @america Pacific Place, Jakarta. Film ini mengisahkan kondisi anak-anak perempuan yang tinggal di beberapa negara sedang berkembang.


Kumpulan kisah ini dikemas dalam bentuk film dokumenter yang disutradarai oleh Richard E. Robins dan didukung oleh Intel Corporation dan CNN Films.


Film ini juga dinaratori oleh beberapa artis Hollywood. Antara lain, Meryl Streep, Anne Hathaway, Liam Neeson, Cate Blanchett dan Selena Gomez.


"Kita harus peduli dengan kondisi perempuan karena ada seorang ahli ekonomi yang bilang kalo keberhasilan suatu negara juga ditentukan dengan kondisi perempuan dari negara tersebut," ungkap Kristen F. Bauer, Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia pada acara diskusi dan pemutaran film dokumenter Girl Rising di Jakarta, Senin (6/1).


Kristen juga menggambarkan bahwa kondisi perempuan di dunia masih sangat memprihatinkan. Sebanyak dua pertiga penduduk di dunia yang buta huruf adalah berjenis kelamin perempuan. Dan masih banyak perempuan di dunia yang mendapat pelayanan kesehatan buruk.


"Film ini sudah diputar di beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan mendapat sambutan yang sangat baik. Saya harap melalui film ini isu-isu kekerasan terhadap perempuan bisa berkurang," ujarnya.


Film dokumenter ini mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan yang berasal dari sembilan negara. Yaitu Kamboja, Haiti, Nepal, Mesir, Ethiopia, India, Peru dan Afghanistan.


Diceritakan bahwa kemiskinan dan budaya di masyarakat menjadi isu utama dalam menghambat pendidikan perempuan. Perempuan di belahan-belahan dunia tersebut tidak bisa menikmati pendidikan selayaknya. Bahkan sebagian dari mereka harus rela bekerja di usia dini untuk mengalah karena orang tuanya hanya mampu menyekolahkan saudara laki-lakinya.


"Keluarga lebih memilih laki-laki yang disekolahkan, karena dianggap laki-laki bisa merantau ke kota dan bisa lebih mandiri. Selain itu, laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah yang ideal untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga," kata Michelle Bekkering, Resident Country Director, International Republican Institute (IRI).


22.14 | 0 komentar | Read More

Dalang Wayang Suket Slamet Gundono Berpulang

Written By Luthfie fadhillah on Minggu, 05 Januari 2014 | 22.14


Solo - Dalang kondang wayang suket Slamet Gundono meninggal dunia pada hari Minggu (5/1) pukul 08.45 WIB di Rumah Sakit Islam Yarsis Solo, dan jenazahnya akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (6/1).


Sebelum dibawa ke Slawi, jenazah dalang kelahiran 19 Juni 1966 itu akan lebih dulu disemayamkan di pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di Kentingan Solo untuk diberikan penghormatan terakhir oleh para seniman dan budayawan dari Solo dan Yogyakarta.


Setelah selesai diberikan penghormatan dan tata cara adat jenazah Slamet Gundono yang juga terkenal sebagai dalang sintren itu pada pukul 17.00 WIB dengan kendaraan darat diberangkatkan menuju Slawi.


Seniman dan budayawan Bambang Murtiyoso mengatakan dengan meninggalnya Slamet Gundono, ia merasa kehilangan, karena almarhum mempunyai potensi yang luar biasa.


"Slamet Gundono itu memang dalang serba bisa dan mempunyai kreativitas yang luar bisa dan suaranya juga bagus," kata dosen almarhum ketika masih kuliah di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu.


Ia mengatakan Slamet Gundono ketika kuliah memang sudah menonjol dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, utamanya pada suaranya yang mengekspresikan nada rendah sampai tinggi.


Almarhum Slamet Gundono juga punya latar belakang teater, sehingga dalam memeragakan wayang juga bisa mengekpresikan wayang terbuat dari barang mati bisa seperti hidup. "Ini kelebihannya yang tidak semua dalang memilikinya," imbuhnya.


Pengamat budaya MT Arifin mengatakan almarhum selain menjadi dalang wayang suket juga merupakan dalang sintren yang merupakan keturunan dari kakeknya yang dulu juga merupakan dalang sintren.


"Tidak semua orang bisa melakukan dalang sintren dan almarhum Slamet Gundono merupakan tokoh di daerahnya yang sekaligus merupakan dalang sintren yang terakhir saat ini. Untuk itu wajar kalau warga daerahnya menghendaki jenazah alamarhum untuk dimakamkan di tempat kelahirannya, karena budaya sintren di sana masih kuat," kata dia.


Ia mengatakan Slamet Gundono banyak membuat kejutan dalam seni pedalangan, yakni sempat membuat kejutan pada pentas Greget Dalang di Solo beberapa tahun lalu dalang ikut menari di atas panggung.


"Seketika itu almarhum Slamet Gundono mendapat protes karena dalang yang tampil dan ikut menari di atas panggung melanggar pakem (aturan) yang ada dan untuk jalan tengahnya sekarang ini mengundang pelawak-pelawak yang menari di panggung," katanya.


Ki Mantep Sudarsono yang terkenal dengan sebutan dalang Oye juga mengakui, almarhum merupakan dalang serbabisa. "Slamet Gundono itu tidak hanya bisa mendalang dengan media wayang suket, tetapi dengan gaya lainnya juga mahir apalagi dengan gaya tradisional juga tidak kalah dengan dalang-dalang senior lainnya," katanya.


Butet Kertanegara yang membacakan biografi singkat Gundono sebelum jenazah diberangkatkan mengatakan, almarhum lulus dari ISI Surakarta tahun 1999, dengan karya-karya seninya di antaranya Wayang Suket, Wayang Lindur, Wayang Air dan bahkan dalam pentas yang sempat menjadi gempar oleh para penonton ketika membawa wayang dengan cerita "Pandawa Lima Gugur".


Almarhum dalam membawakan cerita ini yang mematikan semua Pandawa Lima mendapat protes keras dari komunitas wayang kulit. "Ya, ini kelebihan almarhum seperti ini," kata Butet sambil menambahkan bahwa dalam menggeluti karya-karya seni tradisional ini Slamet Gundono juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda dan Kementerian Pendidikan Nasional.


Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Yuning Rejeki dan dua anak, yaitu Nandung Albert Slamet Saputra (9) dan Bening Putriaji (3,5) yang tinggal di rumahnya di Mojosongo, Solo.


22.14 | 0 komentar | Read More

Alasan Jusuf Gugat Cerai Cut Tari

Written By Luthfie fadhillah on Sabtu, 04 Januari 2014 | 22.14


Jakarta - Setelah sempat sulit dicari untuk dimintai komentar, suami presenter Cut Tari, Johannes Jusuf Soebrata yang akrab disapa Jusuf akhirnya memberikan keterangan perihal gugatan cerai yang diajukan kepada istrinya.


Ditemui di kediamannya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Sabtu (4/1), Jusuf menjelaskan, tidak adanya lagi keharmonisan antara keduanya menyebabkan ia mengajukan gugatan cerai itu.


"Iya, benar ada gugatan itu. Tetapi saya lupa kapan memasukkannya. Namanya pernikahan, kalau sudah tidak ada kecocokan, mau bagaimana lagi?" ujar Jusuf.


Lebih lanjut, Jusuf  tak tahu sejak kapan ketidakcocokan dengan sang istri bermula. Tetapi ia menyakini tidak ada orang ketiga dalam rumah tangganya itu.


"Saya enggak tahu. Soalnya enggak menghitung yang kayak itu (merasa tidak cocok lagi dengan Cut Tari). Saya tegaskan, tidak ada orang ketiga yang menyebabkan ini semua terjadi," lanjutnya.


Jusuf juga mengatakan, ia siap menghadapi sidang perdana yang akan digelar pada 22 Januari 2014.


"Itu semua masalah waktu saja kok, kami memang sudah tidak harmonis,” tegas Jusuf.


22.14 | 0 komentar | Read More

Grup "3 Composer" Meriahkan Tahun Baru di Margo City Depok

Written By Luthfie fadhillah on Selasa, 31 Desember 2013 | 22.14


Depok - Grup musik 3 Composer yang beranggotakan tiga orang hits maker, yaitu Tengku Shafick, Bemby Noor dan Mario Kacang, akan meramaikan malam pergantian tahun di Main Lobby Margo City, Depok, Selasa (31/12) malam ini.


Manajer 3 Composer, Andrew mengatakan, grup yang terbentuk pada tahun 2012 itu akan tampil mulai pukul 23.00 WIB. Mereka akan membawakan sekitar 15 lagu.


"Ada lagu yang dinyanyikan secara utuh, tapi ada juga yang medley. Totalnya ada sekitar 15 lagu," kata Andrew kepada Beritasatu.com, di Depok, Selasa (31/12) malam.


Lagu-lagu yang nantinya bakal dibawakan 3 Composer, menurut Andrew pula, adalah lagu-lagu ciptaan mereka yang sukses dibawakan oleh beberapa penyanyi Indonesia, namun dengan aransemen baru. Di antaranya adalah Love Is You, Sedang Apa dan di Mana, Cinta Dua Hati, Masih Ada, Terima Kasih Cinta, Salah Benar, Pemberi Harapan Palsu, serta beberapa lagu lainnya.


"Di tengah-tengah penampilan, nantinya juga akan ada persembahan (khusus) dari 3 Composer. Ada tiga penonton yang akan diminta untuk naik ke atas panggung dan menyebutkan kata apa saja. Nantinya, 3 Composer akan membuat lagu secara spontan dari kata-kata yang diucapkan tersebut," terang Andrew.


Sebelum penampilan grup 3 Composer, acara bertajuk "Margo City Year End Celebration" yang dimulai pukul 20.00 WIB ini, juga menampilkan Mongol "Stand Up Comedy", DJ performance, hingga live band, aksi modern dance, dan tentu saja pesta kembang api tepat pada pukul 00.00 WIB.



22.14 | 0 komentar | Read More

Rama Widi Merasa Terpanggil oleh Harpa

Written By Luthfie fadhillah on Senin, 30 Desember 2013 | 22.14


Jakarta - Saat lulus SMA, Rama Widi (28) bertolak ke Vienna untuk belajar menjadi konduktor orkestra. Sayangnya, dia gagal pada tes masuk ke Uni Music, sebuah universitas musik di Vienna, Austria, di hari kedua. Namun siapa sangka, kegagalan itu justru menuntunnya ke harpa, yang menjadi instrumen musik penting untuk kariernya saat ini.


"Saya ngefans dengan Addie MS dan Maya Hasan. Saya ingin sekali menjadi seperti Addie MS suatu hari nanti. Namun, setelah gagal di ujian menyanyi saat di Uni Music, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lain, yang perkembangannya bisa cepat. Saya pilih harpa, karena di Indonesia pun pemain harpa profesional baru ada tiga orang. Bolehlah jadi nomor empat," ujarnya, saat ditemui di acara jumpa pers "New Year's Concert 2014 with Symphonia Vienna Orchestra", di Jakarta, Senin (30/12).


Dikisahkan Rama lagi, ia pun akhirnya mendaftar di Vienna Conservatory Austria jurusan Performing Arts untuk instrumen harpa, pada 2004. Dia awalnya merasa cukup panik, saat diharuskan bermain harpa ketika ujian masuk. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah melihat alat musik itu dari dekat, apalagi memainkannya.


Namun, berkat mengingat tayangan televisi yang memperlihatkan Maya Hasan menjelaskan bagian-bagian dari instrumen harpa, tanpa disangka, Rama pun bisa memainkan instrumen yang tingginya mencapai 1,85 meter tersebut.


"Saya dites dua lagu anak-anak oleh dosen penguji. Dia pun sempat tidak percaya, kalau saya belum pernah bermain harpa sebelumnya. Menurutnya, apa yang saya lakukan benar-benar bakat alami," kata Rama.


Kemudian, masih menurut Rama, bersamaan dengan kuliah Performing Arts untuk instrumen harpa, dirinya juga mengambil kuliah musik pedagogik (Musik Edukasi) dengan minor Conducting Orchestra.


"Jadi, saya mengambil double degree, dan akhirnya berhasil belajar conducting juga. Pertimbangan mengambil pedagogik, karena orang tua dan dosen yang menyarankan. Karena bagaimana pun juga, ibu saya bilang saya harus belajar membagi dan menyalurkan ilmu saya ke orang lain," terangnya.


Belakangan, Rama pun sudah bisa dikatakan sebagai salah satu kebanggaan Indonesia, karena berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang bermain di Vienna Jazz Festival, serta konser solo di Arkadenhof Rathaus, Vienna.


Pada November 2012 lalu, Rama juga terpilih menjadi kontestan pada ajang kompetisi harpa internasional. Dia merupakan orang Indonesia pertama yang lolos seleksi selama 50 tahun kompetisi tersebut berlangsung. Rama pun mewakili Indonesia di antara 33 peserta lainnya dari 17 negara, pada ajang "The 18th International Harp Contest" di Israel.


Rama pun menuturkan, setelah lulus dari Vienna Conservatory Austria pada tahun 2012, dirinya sempat mengajar selama satu setengah semester di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kemudian, pada bulan Mei tahun lalu, Rama diangkat menjadi dosen harpa di Chamber Music Mahidol University, Thailand, serta bergabung dengan Thailand Philharmonic Orchestra.


"Saya akan bermain harpa sampai selesai bernapas. Saya percaya, musik itu (adalah) napas hidup. Harpa panggilan saya, bukan hobi lagi. Kalau tidak, saya tidak akan bisa memainkannya saat pertama kali melihat harpa. Dan sudah menjadi misi saya untuk membagi talenta yang saya miliki kepada orang lain," tandas Rama.


22.14 | 0 komentar | Read More

Pemprov DKI Ingin Beli Bangunan Kuno untuk Cagar Budaya

Written By Luthfie fadhillah on Minggu, 29 Desember 2013 | 22.14


Jakarta - Banyaknya bangunan cagar budaya maupun rumah tokoh-tokoh sejarah di Ibukota membuat Pemprov DKI Jakarta berniat untuk membeli dan merawatnya apabila pihak keluarga bersedia menjualnya.


Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, selama ini pihak keluarga kerap menjual bangunan kepada pihak swasta. Namun saat ini belum ada keluarga dari tokoh sejarah yang bersedia menjualnya kepada Pemprov DKI.


"Belum ada (yang menjual). Selama ini rumah-rumah kuno itu dijual ke pengusaha. Kalau cuma kuno biasa masih oke, ini kadang-kadang sejarah kan," katanya di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (29/12).


Basuki menyebutkan, dulu terdapat ada Museum Adam Malik di kawasan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Namun keberadaannya sudah tidak ada dikarenakan dijual oleh ahli warisnya kepada pihak swasta. Mantan Bupati Belitung Timur ini pun menyayangkan hal tersebut, sedianya museum-museum atau bangunan-bangunan bersejarah dijual kepada pihaknya. Terlebih DKI juga memberikan potongan harga untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kepada bangunan atau rumah tersebut sebesar 75 persen.


"Seharusnya museum-museum seperti itu dijual ke kita (DKI) saja, yang kita harap seperti itu sehingga kita pesan kepada keluarga," katanya.


Basuki mencontohkan keluarga Bung Hatta dan pihaknya sudah meminta untuk menjualnya ke DKI saja terkait hal itu. Ia juga menyambut baik rencana salah satu mantan Menteri Pekerjaan Umum (PU) yang akan membuat museum dan akan dikelola dan dipelihara oleh keluarganya sendiri.


"Kita lebih senang karena kita ingin banyak museum-museum lah supaya orang kenal, karena mereka orang-orang hebat. Mereka juga setuju tapi memang belum berniat menjualnya," imbuh pria yang akrab disapa Ahok ini.


Begitu pun dengan Kota Tua yang haknya masih dipegang oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ia ingin agar pengelolaannya dialihkan ke DKI. Sebab, pihaknya melihat pihak BUMN tidak ada tanggung jawab untuk mengelola Kota Tua itu.


"Kota Tua masih dipegang haknya BUMN. Maka kita bilang, kalau tidak mau urus kasih kami saja. Buat saja perjanjian, kalau mau hibahkan pada DKI ya kami beli," kata Ahok.


Ia mengatakan, seharusnya urusan dari pemerintah kepada pemerintah lebih mudah. Pihaknya juga sudah mengajukan permintaan tersebut kepada Presiden RI, tetapi belum mendapat respon hingga saat ini.


22.14 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger